NOVEL CINTA KASHIMOTO

Author  :  Genia Prima Putri

Awan mendung menghiasi langit hari ini, tak seperti hari-hari kemarin yang cerah disinari oleh sang mentari. Langit sendu ini sangat bertolak belakang dengan hati Riana yang berbunga-bunga, karena hari ini adalah hari pertamanya berkerja sebagai petugas kasir ditoko buku Grestell. Sebenarnya uang kiriman dari orang tuanya masih bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun Riana ingin menabung dan mencari pengalaman kerja diluar kehidupan kuliahnya. Ya walaupun hanya sebagai petugas kasir paruh waktu, ia sangat bersyukur bisa diterima kerja. Sebelumnya Riana pernah melamar kerja paruh waktu diberbagai tempat, mulai di restoran cepat saji sampai butik sepatu, tetapi selalu saja ditolak. Pada akhirnya ia melamar kerja di Grestell, walau awalnya Riana pesimis bisa diterima, tapi kenyataannya Mas Wandi, sebagai kepala perkerja mau menerimanya.

Riana mendapat bagian kerja jam malam, mulai jam enam sore sampai sepuluh malam ia harus berdiri dibalik meja kasir. Riana tentu tidak mau terlambat dihari pertamanya, sudah dari jam lima sore ia mondar-mandir didalam ruangan istirahat pegawai. Ruangannya tidak terlalu besar, hanya terdapat beberapa lemari loker, sebuah sofa merah yang sudah usang dan satu set meja makan kecil dipojok ruangan. Riana mencoba membiasakan diri, lalu ia mendengar suara Mas Wandi sedang berbicara dengan seorang wanita dari luar ruangan.

“Ren, sekarang ada kasir baru, kamu harus baik-baik loh sama dia.”

“Oh, dia yang gantinya Restu. Iya deh aku tidak akan judes sama dia.”

“Bener nih kamu bisa? Biasanya kamu….”

“iya…iya…tenang saja aku akan baik-baik sama dia mas.” Jawab wanita itu dengan cepat.

Suara mereka semakin mendekat, dan Mas Wandi pun membuka pintu.

“Eh kamu sudah datang Rin. Oh ini Irene dia juga kasir, nanti kalian akan kerja bareng.”

“Oh iya mas.” Jawab Riana “Hai, Riana.” Sambil menjulurkan tanagnnya untuk bersalaman.

“Irene, oh jadi kamu kasirnya.” Ucap Irene dengan senyumnya yang sedikit sinis.

Seketika Riana tahu bahwa hari pertamanya tak semudah yang ia kira.

Sudah dua jam Riana berdiri dimeja kasir, pengunjung Grestell tidak terlalu banyak malam ini jadi Riana tidak terlalu kewalahan, walaupun sesekali Irene menyindir kerja Riana masih lambat dalam menghitung uang kembalian. “Seharusnya Irene masih maklum aku kan masih pegawai baru.” Desah Riana dalam hati, ia lebih senang diam daripada harus berurusan dengan pegawai yang lebih senior darinya.

Tepat didepan meja kasir terdapat rak yang berisi tumpukan buku-buku baru yang best seller, buku-buku itu disusun dengan rapi. Ada seorang pemuda yang menghampiri tumpukan buku tersebut, melihat-lihat lalu mengambil salah satunya. Riana mengamati pemuda tersebut baik-baik, entah mengapa pemuda itu menjadi begitu menarik perhatiannya. Dia memiliki wajah oriental dan anehnya sedikit imut, bahkan untuk ukuran seorang pria dewasa wajahnya terlalu imut, ditambah warna kulitnya yang putih sangat kontras dengan warna kulit Riana yang sawo matang, dia terlihat asing. Sepertinya dia bukan orang Indonesia.

Riana pun mencoba menebak-nebak, “mungkin dia dari Jepang atau Korea.” Pikir Riana. “Hhm…umurnya pasti sekitar dua puluh atau dua puluh satu tahun.” Tambahnya dalam hati sambil terus mengamati pemuda tersebut. Tiba-tiba Mas Wandi datang sambil membawa beberapa buah buku, menghampiri pemuda tersebut sambil mengajak berjabat tangan, pemuda itu pun menerimanya dengan ramah dan mereka pun bercakap-cakap layaknya dua orang yang sudah lama kenal. Riana tidak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, rasa penasaran pun muncul, sehingga Riana pun memusatkan konsentrasinya untuk bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tiba-tiba “hey !” bentak Irene dengan nada sedikit tinggi. “kamu itu lagi liat apa sih?”

Dengan kaget Riana langsung mempalingkan wajahnya ke Irene, ia melihat wajah Irene yang kesal, lalu Riana segera menundukkan kepalanya, berharap Irene tidak terus memandanginya dengan wajah seram yang ia pasang. Setelah beberapa detik dia teringat lagi dengan pemuda tadi dan Mas Wandi, sedikit-sedikit Riana mulai mengangkat kepalanya, ia menoleh kekanan-kiri ternyata Mas Wandi dan pemuda itu sudah tidak ada ditempat, matanya mulai melirik ke beberapa sudut, tapi ia tidak menemukannya juga.

“Yah’….” bisik Riana kepada dirinya sendiri.

“Maaf mbak?” suara pelanggan yang ingin membayar mengejutkannya.

“Oh iya, silahkan mas.”

Betapa kagetnya Riana ketika melihat pelanggan yang berdiri dihadapannya adalah pemuda yang ia sedang cari-cari, sehingga Riana bukannya melayani malahan terdiam memadang si pemuda itu. Raut mukanya pun menjadi berubah.

“mbak?” ucap si pemuda sambil melambai-lambaikan tangannya didepan muka Riana.

“maaf, iya silahkan” sambil menggambil buku dari si pemuda.

Pemuda itu membalas dengan senyuman manis. Wajahnya menjadi lebih imut lagi.

Dia membeli dua buah buku, sebuah novel remaja bernuansa romantis dan yang satunya komik Jepang bertemakan detektif.

“Jadi berapa?” si pemuda itu mengeluarkan dompetnya.

“Semuanya jadi 65.000 rupiah.”

“Ini.” Sambil menyerahkan uangnya.

“Terima kasih” jawab Riana yang disambung senyuman ramah.

Mata Riana terus mengikuti si pemuda yang berjalan ke pintu keluar.

“Huh, buat kaget saja.” Ucap Riana dalam hati.

“tadi dia bisa bahasa Indonesia, bahkan logatnya pun bagus. Sebenarnya dia siapa sih?” lanjutnya. “dan wajahnya itu….. ternyata lebih manis jika dilihat dari dekat hehe.” Riana pun tersenyum sendiri. Padahal dia dari dulu ia lebih menyukai pria yang gagah, dengan wajah tegas dan warna kulitnya sedikit gelap. Jika digambarkan tipe pria yang Riana sukai itu seperti siswa dari Akademi Militer. Makanya Riana tak mengerti mengapa ia bisa merasa tertarik dengan si pemuda oriental itu, jelas-jelas ia jauh berbeda dari tipe pria idamannya.

Setelah toko buku tutup, Riana sengaja menemui Mas Wandi di ruang istirahat.

“Mas Wandi” ucap Riana sambil tersenyum

“Eh Rin, gimana hari pertamanya? Ada masalah?”

“tidak kok, semuanya baiki-baik saja. Hhm… mas tadi Riana lihat mas Wandi sempat mengobrol dengan laki-laki…”

“Laki-laki yang mana ?” potong Mas Wandi, sambil memakai jaket kulitnya.

“itu loh mas, yang mirip orang Jepang atau Korea gitu, kelihatannya mas kenal sama orang itu.”

“Oh…mungkin maksud kamu itu Kashimoto?” jawabnya.

Dia itu penulis keturunan Jepang, sudah beberapa kali dia meluncurkan bukunya disini. Makanya mas kenal.” Lanjut mas Wandi.

“Oh….begitu” tanggap Riana

“Memangnya kenapa? Kamu suka sama dia?” ujar mas Wandi sambil tertawa kecil.

“Apa sih mas, Riana cuma nanya kok” jawab Riana salah tingkah.

“Ya sudah kamu pulang sendiri? Tidak takut ?”

“tempat kost Riana dekat dari sini kok mas.”

Tak terasa sudah hampir sebulan Riana berkerja sebagai kasir, dia mulai terbiasa untuk mengatur waktunya antara kuliah dan kerja. Hari ini cuaca sangat tidak bersahabat, sudah dari siang hari hujan deras terus mengguyur bumi. Riana sampai ke tempat kerjanya dengan basah kuyup, payung yang ia pakai tidak bisa melindungi seluruh tubuhnya dari air hujan.

“Riana, hari ini kamu menggantikan Santi ya!” perintah mas Wandi.

“Loh kenapa Mas?”

“Dia sakit, padahal hari ini banyak stok buku baru dari penerbit yang belum dibereskan, maklum tahun ajaran baru.”

“hhm.. iya mas.”

“Jadi tugas kamu hari ini hanya menyusun buku-buku itu dari gudang ke rak ya, huh’…dari pagi tidak selesai-selesai.”

Riana mulai melakukan tugasnya dengan hati-hati, ternyata ini lebih melelahkan daripada menjadi petugas kasir, ia harus bolak-balik dari gudang dengan membawa tumpukan buku dan demukian menyusun buku-buku tersebut sesuai dengan temanya dengan rapi, memeriksa label harganya dan lapisan plastik pembungkusnya apakah rusak atau tidak. Sesekali Kak Ridwan yang sama-sama pewagai paruh waktu membantunya membawa buku dari gudang.

Ketika sedang sibuknya merapihkan buku-buku yang bertemakan sejarah, Riana tak sengaja melihat pemuda Jepang yang ia lihat dihari pertama ia kerja.

“Wah, dia lagi…aduh namanya siapa ya?” dalam hati Riana.

“kas…kas… oh Kashimoto…ya Kashimoto !” akhirnya Riana bisa mengingat nama pemuda itu sambil tersenyum sendiri.

“tapi dia dengan siapa?” pikir Riana ketika melihat Kashimoto ternyata tidak datang sendirian, dia bersama seorang wanita.

“apakah dia pacarnya?” raut muka Riana pun berubah muram.

Kashimoto berjalan berdampingan dengan wanita itu sambil mengobrol, dan sesekali ia menunjukan senyum manisnya. Wanita yang datang bersamanya terlihat lebih tua beberapa tahun, walaupun dia memiliki wajah cantik dengan pipi tirusnya.

Tak beberapa lama si wanita memisahkan diri meninggalkan kashimoto, dia menuju rak yang dipenuhi novel-novel percintaan. Kashimoto kemudian melihat-lihat buku yang ada disekitarnya, dan tak sengaja matanya melihat Riana yang juga sedang menatapnya. Riana menjadi malu lalu mengalihkan pandangannya, berpura-pura kembali sibuk dengan kerjaannya dengan gugup. Kashimoto pun berjalan menghampirinya.

“maaf, apa seri terbaru komik Detektif Conan sudah terbit?” tanyanya pada Riana.

“oh, saya tidak tahu pasti, tapi saya akan mencarikannya sebentar.” Jawab Riana dengan gugup kemudian dia pergi ke komputer operator yang berguna untuk mencari buku apa saja yang sedang dijual. Kashimoto mengikutinya dari belakang.

“Hhm.. sepertinya belum terbit.” Jawab Riana sambil memendang ke layar komputer.

“Oh…” tanggap Kashimoto dengan datar.

“Eh, bukannya kamu itu petugas Kasir ya, Riana?” tanya Kashimoto.

“Hah mengapa ia bisa tahu namaku?” Pikir Riana.

“kenapa bisa tahu…”

“itu “ Sela Kashimoto sambil menunjukan jarinya ke tanda pengenal Riana.

“Oh iya ya…” mereka berdua pun tersenyum.

“Kiba !” wanita yang datang bersama Kashimoto memanggil.

“sudah dapat? Ayo ..!” jawab Kashimoto.

Kashimoto pun berjalan menuju wanita itu. “Kiba? Apakah itu nama panggilan sayangnya?” tanya Riana dalam hati.

Hari ini hari Minggu, Riana memutuskan untuk lari pagi sebentar, sudah lama ia tidak olahraga. Biasanya ia olahraga di lapangan dekat alun-alun kota, ya karena selain olahraga dia disana bisa sekalian berbelanja barang-barang murah, maklum setiap hari minggu alun-alun kota dipenuhi pedagang kaki lima.

Riana sudah merasa kelelahan padahal ia baru berlari beberapa menit, rasa sesak menusuk ke dadanya, ia pun memperlambat larinya. Didepannya ada seorang laki-laki yang juga sedang berlari, ia berlari cukup cepat tetapi kemudian lelaki itu berhenti dan memasangkan tali sepatunya yang terlepas. Riana pun menyusulnya, “hai ” Riana medengar suara yang tak asing baginya, suara Kashimoto.

Mereka pun menjadi lari bersamaan. Ini kesempatan bagus untuk Riana mengenal Kashimoto, apalagi mereka tidak berlari dengan cepat, akan ada banyak waktu yang akan dihabiskan bersama pagi ini.

“Sudah lama kamu tinggal di Indonesia?”

“sudah aku lahir disini, tapi kemarin aku kuliah di Jepang empat tahun, dan setelah lulus baru pulang kesini tiga tahun yang lalu.” Jawab Kashimoto.

“hah, dia sudah lulus kuliah, jadi berapa usianya sekarang?” pikir Riana dalam hati.

“aku kira kamu orang jepang asli loh hehe…oh iya jadi sekarang berapa umurmu? “

“umurku? Sekarang 26. Memangnya kenapa?”

“Astaga dia terlihat lebih muda dari umurnya.” Pikir Riana dalam hati.

“tidak apa-apa sih. Tapi maaf ya awalnya aku tidak tahu kamu itu penulis loh.”

“hah, benar kamu tidak tahu kalau aku ini penulis. Sepertinya aku kurang terkenal ya.”

“iya, aku belum pernah membaca bukumu satupun, maaf.”

“yah kamu ini, novelku semuanya bercerita horor dan pembunuhan, kamu kan kerja ditoko buku masa tidak tahu.”

“aku kan baru kerja ditoko buku, lagian untuk novel aku lebih suka novel romantis, aku suka juga sih cerita horor tapinya dalam bentuk film.”

“Oh, kalau begitu kamu harus baca novel terbaruku. Orang dari penerbitan memintaku mencoba menulis novel percintaan, bukan cerita yang berbau seram lagi. Padahal aku sama sekali tidak terbiasa menulis hal-hal romantis seperti itu, aneh rasanya.”

“hehe.., kamu pasti bisa kok. Kalau bukumu sudah jadi aku akan baca deh.”

“iya aku akan segera menyelesaikannya. Huh, gara-gara ini aku harus baca novel-novel percintaan padahal aku lebih suka baca komik.” Keluh Kashimoto.

“jadi itu alasannya kamu membeli novel romantis. Soalnya jarang ada laki-laki yang mau baca novel seperti itu.”

“iya, aku pun tidak pandai memilih novel romantis, jadi aku harus meminta editorku untuk memilih novel romantis.”

“benarkah ?” tanya Riana.

“iya, wanita yang bersama ku di Grestell kemarin adalh editorku. Mungkin nanti aku bisa memintamu saja yang memilihkan novel untukku.” Jawab Kashimoto.

“oh dia editormu. Eh aku jadi ingat kenapa dia memanggilmu Kiba? Apakah kalian berdua punya nama panggilan khusus?

“hehe…kamu itu lucu ya! jawab Kashimoto sambil tertawa kecil

“Nama lengkapku itu Kashimoto Kiba, Kashimoto itu nama keluargaku, tapi teman-temanku lebih sering memanggilku dengan Kiba. Kamu juga boleh panggil aku Kiba.” Lanjutnya.

“Oke. Oh iya apa boleh aku tahu apa cerita novelmu itu? Sedikit saja kok!” bujuk Riana

“hhm… maaf tidak boleh kuceritakan dulu, tapi bukuku ini akan terdiri dari beberapa cerpen dan aku ingin mempersembahkannya untuk orang-orang yang aku sayangi, ya kan kapan lagi aku menulis cerita cinta seperti itu.”

“ah.. itu romantis sekali, orang yang kamu sayangi itu apakah termasuk editormu? Tanya Riana dengan nada menyindir.

“haha…mbak Jihan itu hanya editorku, kita hanya teman kerja.”

“huh, apa kamu tidak capek? Kita istirahat dulu ya” ujar Riana sambil berhenti dari lari kecilnya.

“iya, kamu sudah sarapan? Kita sarapan dulu saja. Aku yang traktir.” Jawab kashimoto.

Setelah pagi itu, Riana dan Kiba menjadi lebih akrab dan saling mengenal. Hampir disetiap minggu mereka lari pagi bersama dan kini giliran Kashimoto yang menanyai tentang kehidupan Riana.

“eh, Rin menurutmu apa hal yang paling romantis yang dilakukan pria untuk wanita yang ia cintai? Hanya untuk inspirasi bukuku saja.”

“hhm…menurutku sih, misalnya dia seorang musisi, ia membuat lagu khusus untuk orang yang dia cintai. Atau mungkin penulis sepertimu, memakai nama orang yang ia cintai unuk tokoh dalam ceritanya.” Jawab Riana dengan asal, sebab dia sendiri belum pernah mengalami hal-hal romantis seperti itu.

“oh” Kashimoto hanya menanggapi dengan singkat

Kashimoto duduk dimeja kerja, matanya terus menatap layar komputer dan jari-jari mengetik kata-kata dengan cepat. Kemudian dia terseyum memperlihatkan wajah manisnya.

“akhirnya selesai.” Dalam benak Kashimoto.

Dengan lega ia menyandarkan badannya dikursi setelah ia menuliskan kalimat terakhir untuk novelnya.

Hari ini adalah peluncuran perdana novel karya Kashimoto, novel pertamanya yang bertemakan kisah percintaan. Dan Kashimoto ingin melakukannya di Grestell. Grestell sangat penuh hari itu, begitu pegawainya sangat sibuk dari hari biasanya.

“terimakasih kalian semua telah datang ke acara peluncuran novelku ini, kali ini berbeda dari novelku yang biasanya, novel ini berisikan lima cerpen dan semuanya tentang kisah cinta. Semoga kalian menyukainya. Terimakasih.” Ucap Kashimoto kepada seluruh pelanggan yang datang hari itu, kemudian pelanggan yang sudah membeli novelnya mengantri untuk meminta tanda tangan Kashimoto. Novelnya berjudul “The Moon Life” dengan sampul bernuansa hitan dan ungu berhiaskan gambar bulan purnama ditengahnya.

Akhirnya Grestell tutup juga setelah hari yang melelahkan, Irene langsung menghilang ketika kerjanya habis. Riana masih membereskan barang-barangnya diruang istirahat.

“Hai Rin !” Kashimoto mengejutkannya daribelakang.

“eh, kamu belum pulang?”

“Cuma mau beri kamu ini.” Ujar Kashimoto sambil memberikan novel barunya.

“kamu janjikan mau baca novel aku, eh baca cerita yang terakhir dulu ya.” Sambungnya

“Makasih ya”

“oh iya, sudah aku tanda tangani. Dah…duluan ya” sambil keluar dari ruangan.

Riana pun membaca novelnya, ia mengikuti saran Kashimoto membaca cerita terakhir dulu.

Judulnya “Kafein

“Aku mulai keracunan, entahkeracunan kafein atau keracunan……dia.

Sudah beberapa minggu ini aku minum kopi di CoffeCafe, bukan karena aku penggila kopi tapi karena dia, ya dia seorang pramusaji, hanya pramusaji biasa. Tapi ia begitu menarik perhatianku. Dan hal tergila yang pernah kulakukan adalah memesan kopi berkali-kali hanya untuk bisa melihat tanda pengenalnya, saat itu aku berpura-pura kebingumgan memesan apa, padahal aku sedang mencoba melirik ke tanda pengenalnya. Akhirnya berhasil aku mengetahui namanya, akhirnya adahal lain yang aku ketahui tentang dia. Namanya adalah……….”

Riana pun tersenyum. Dia tersenyum sendiri membaca namanya.

TAMAT

cerpen ini juga sudah pernah saya post diblog saya yang lainnya

bacadiblogspot

Iklan